Sejarah Klub Lazio: Dari Klub Lari di Roma hingga Pemburu Scudetto

Sejarah klub Lazio dimulai pada 9 Januari 1900, ketika Luigi Bigiarelli bersama saudaranya Giacomo dan tujuh sahabat mendirikan Società Podistica Lazio di Roma. Pada hari pertama itu belum ada yang membicarakan sepak bola, sebab Lazio lahir sebagai klub lari. Seabad lebih kemudian, klub berjuluk Biancocelesti ini sudah meraih dua Scudetto, Piala Winners Eropa, dan deretan Coppa Italia, sekaligus melewati perang, krisis finansial, dan tragedi yang membentuk karakternya sebagai salah satu klub paling berkepribadian di Italia.

Awal Mula Lazio: Klub Lari yang Lahir di Piazza della Libertà

Sembilan Sahabat dan Lomba Giro di Castel Giubileo

Para pendiri duduk di sebuah bangku di Piazza della Libertà dan sepakat membentuk perkumpulan olahraga yang dijiwai semangat Olimpiade. Empat hari berselang, pada 13 Januari 1900, jumlah anggota sudah mencapai 15 orang saat statuta pertama ditandatangani. Alasan pembentukannya sederhana: mereka ingin ikut lomba lari Giro di Castel Giubileo yang hanya terbuka bagi tim terdaftar. Selain lari, cabang awal klub mencakup dayung, renang, dan mendaki.

Sepak Bola Masuk Roma pada 1901

Sepak bola baru datang setahun kemudian. Saat itu hanya para seminaris di Scottish and Irish College yang memainkannya di Roma. Bruno Seghettini, yang diduga menjadi penghubung dengan para seminaris tersebut, mendatangi markas Lazio di Via Valadier 21 pada Januari 1901 dan menjelaskan asal-usul serta aturan dasar permainan dari Inggris itu, lengkap dengan bola tali bersimpul yang bisa memantul.

Gawang Kayu, Derby Pertama, dan Elang Romawi

Pada 1903, Alberto Canalini, tukang kayu sekaligus anggota klub, membuat gawang kayu pertama di Roma untuk lapangan Piazza d’Armi. Setahun berikutnya, 15 Mei 1904, Lazio memainkan derby ibu kota pertama yang tercatat melawan Virtus dan menang 3-0 lewat hat-trick kapten Sante Ancherani. Seragam debutnya berupa kaus flanel putih dengan sisipan biru langit yang dijahit ibu dan saudari Ancherani. Pada 1905, lambang elang imperial Romawi muncul untuk pertama kali, bertengger di atas perisai bergaris tujuh, empat biru dan tiga putih.

Masa Pembentukan: Dari Juara Roma hingga Gelar yang Tertunda

Lazio langsung berkuasa di kancah lokal. Klub menjuarai kejuaraan Roma 1907, lalu menyapu turnamen regional resmi pertama pada 1910 dengan kemenangan 11-0 atas Ginnastica Fortitudo di laga pembuka. Pada 1913 dan 1914, Lazio menembus final nasional sebagai wakil Italia Tengah-Selatan, tetapi kalah dari Pro Vercelli dan Casale karena sepak bola utara masih jauh di depan. Lapangan Rondinella di kawasan Flaminio diresmikan pada 1 November 1914 lewat kemenangan 3-2 atas Audace.

Peluang gelar sebenarnya hadir pada musim 1914/15. Lazio sudah menjadi juara Italia Tengah-Selatan dan berhak tampil di final nasional, tetapi federasi menghentikan kompetisi di utara pada Mei 1915 akibat pecahnya Perang Dunia I. Final itu tak pernah dimainkan.

Bertahan di Tengah Perang dan Politik (1921–1943)

Ente Morale dan Penolakan Merger

Pada 1921, dekrit kerajaan menganugerahkan status Ente Morale kepada Lazio karena presiden Fortunato Ballerini mengubah lapangan Rondinella menjadi kebun pangan untuk warga Roma yang kelaparan akibat perang. Pihak klub menyebut Lazio sebagai satu-satunya organisasi olahraga yang memperoleh penghargaan semacam itu. Status tersebut menjadi benteng ketika, pada 1927, muncul gagasan politik untuk meleburkan seluruh klub Roma ke dalam satu entitas baru. Jenderal Giorgio Vaccaro, tokoh olahraga berpengaruh yang kala itu wakil presiden Lazio, menolak peleburan dan menjaga klub tetap berdiri sendiri. Nama klub sendiri sudah berubah dari Società Podistica Lazio menjadi Società Sportiva Lazio pada 19 Juni 1926.

Brasilazio dan Kehadiran Silvio Piola

Memasuki Serie A format satu putaran pada 1929/30, Lazio bertahan setelah awal kuat dengan mengalahkan juara bertahan Bologna 3-0. Klub pindah ke Stadio Nazionale PNF pada 1931 dan mencoba jalan pintas mengatasi krisis teknis dengan merekrut sembilan pemain Brasil, sebagian berdarah Italia, yang dijuluki Brasilazio. Titik balik sesungguhnya datang pada musim panas 1934, ketika Silvio Piola pindah ke Roma berkat bujukan Vaccaro.

Piola menjelma ikon. Ia mencetak lima gol di Piala Dunia 1938, termasuk dua gol di final saat Italia menang 4-2 atas Hungaria. Lazio sendiri sempat menembus final kompetisi antarklub Eropa pertamanya pada 1937, tetapi kalah dramatis dari Ferencváros, dengan kepemimpinan wasit di leg pertama di Hungaria yang menuai kontroversi. Piola meninggalkan Lazio pada 1943 dengan 159 gol, lalu kelak tercatat sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Serie A dengan 274 gol.

Dari Stadio Olimpico ke Scudetto Pertama 1974

Rumah Baru dan Piala Pertama

Stadio Olimpico, yang dirancang sejak 1927 dan rampung pada 1953, diresmikan oleh Lazio dalam laga liga melawan Legnano pada 20 September 1953 dengan skor 1-1. Piala pertama dalam sejarah klub baru datang pada 1958, ketika Lazio memenangi Coppa Italia setelah mengalahkan Fiorentina di final. Karena itu, Lazio menjadi klub pertama yang mengenakan pita tricolore sebagai juara piala di seragamnya mulai musim 1958/59.

Maestrelli, Chinaglia, dan Scudetto 12 Mei 1974

Umberto Lenzini, pengusaha konstruksi kelahiran Colorado, menjadi presiden pada 1965. Lazio promosi ke Serie A dan menampilkan penyerang muda Giorgio Chinaglia pada 1969. Setelah sempat terdegradasi, klub menang di Coppa delle Alpi 1971 dan menunjuk Tommaso Maestrelli sebagai pelatih. Dalam waktu singkat, tim itu berubah dari penghuni Serie B menjadi penantang gelar. Pada musim 1972/73, Lazio ikut berebut Scudetto hingga pekan terakhir dan gagal tipis. Setahun kemudian, skuad yang hampir sama, dengan Chinaglia sebagai pencetak gol andalan, Pulici dan Wilson di belakang, Cecconi di tengah, serta D’Amico sebagai kreator, mengunci Scudetto pertama pada 12 Mei 1974.

Duka Setelah Pesta

Kebahagiaan itu tak bertahan lama. Maestrelli jatuh sakit dan meninggal pada 2 Desember 1976. Luciano Re Cecconi wafat dalam insiden tragis pada Januari 1977, dan pada 28 Oktober 1979 suporter Lazio, Vincenzo Paparelli, tewas sebelum derby di Olimpico, salah satu halaman paling kelam sepak bola ibu kota. Beberapa pekan kemudian, Lazio dan Roma memainkan laga persahabatan campuran untuk menggalang dana bagi keluarga korban.

Dekade yang Berat: Sponsor Pertama, Maglia Bandiera, dan “Meno Nove”

Musim 1981/82 membawa kebaruan komersial ketika sponsor pertama, produsen grissini Tonini, muncul di dada seragam Lazio. Pada 1982, desainer Otello Cecchi menciptakan seragam setengah biru langit setengah putih dengan elang stilisasi yang sayapnya membentang hingga lengan, yang dikenang sebagai Maglia Bandiera. Seragam itu bangkit lagi pada Januari 2015 berkat Macron.

Namun, pertengahan 1980-an nyaris menjadi akhir riwayat klub. Pada musim panas 1986, skandal taruhan membuat Lazio awalnya dijatuhi degradasi ke Serie C, lalu hukuman diperlunak menjadi tetap di Serie B dengan pengurangan sembilan poin. Dari situlah legenda Meno Nove lahir. Lazio harus melalui playoff di Napoli melawan Taranto dan Campobasso di depan sekitar 35.000 suporter, dan gol Poli ke gawang Campobasso menyelamatkan klub dari degradasi. Dua nama, Bocchi dan keluarga Calleri, disebut sebagai penyelamat dari kebangkrutan. Lazio kembali ke Serie A pada 1988 dan memakai Stadio Flaminio selama musim 1989/90 karena Olimpico direnovasi untuk Piala Dunia Italia ’90.

Era Sergio Cragnotti: Saat Lazio Menaklukkan Italia dan Eropa

Wajah Baru Klub pada 1992

Pada 12 Maret 1992, pengusaha Roma Sergio Cragnotti resmi menjadi presiden setelah membeli saham Gianmarco Calleri. Lambang klub dimodernisasi dan sebutan biancocelesti menggantikan biancazzurri sebagai identitas warna. Dino Zoff dipercaya melatih sejak 1990 dan kemudian naik menjadi presiden ketika Zdeněk Zeman datang pada 1994 dengan formasi 4-3-3 yang menyerang. Beppe Signori menjuarai daftar pencetak gol pada 1993, saat Lazio finis kelima dan kembali ke Eropa setelah absen 15 tahun, sementara lulusan akademi, Alessandro Nesta, mulai muncul.

Trofi Beruntun 1998–2000

Lazio memenangi Supercoppa Italiana 1998 di Turin melalui penalti Conceição pada masa tambahan waktu, lalu meraih Piala Winners 1999 setelah mengalahkan Mallorca di Birmingham lewat gol Vieri dan tembakan jarak jauh Nedvěd. Pada Agustus 1999, Lazio mengalahkan Manchester United di Piala Super Eropa di Monako. Pada 2011, Sir Alex Ferguson menyebut kegagalan menaklukkan Lazio di laga itu sebagai salah satu penyesalan terbesarnya.

Puncaknya terjadi pada Mei 2000. Dalam rentang lima hari, Lazio mengunci Scudetto dan Coppa Italia, lalu menutup trio nasional dengan mix parlay Supercoppa Italiana setelah mengalahkan Inter pada 8 September 2000. Satu-satunya gelar besar yang tak sempat diraih era Cragnotti adalah Liga Champions.

Krisis, Penyelamatan, dan Era Claudio Lotito

Gagal bayar obligasi Cirio pada November 2002 menenggelamkan keuangan Cragnotti. Ia mundur pada 3 Januari 2003, para bintang seperti Crespo dan Nesta dijual, dan Roberto Mancini memimpin skuad yang tetap menutup musim di posisi keempat. Lewat Rencana Baraldi, pemain menyebar pembayaran gaji dan mengubah sebagian gaji mereka menjadi saham klub. Para pemegang abonemen merayakannya dengan “Maglia Day” pada 5 Oktober 2003 saat Lazio mengalahkan Chievo.

Mancini membawa Lazio menjuarai Coppa Italia 2004 setelah dua laga final melawan Juventus, dengan Stefano Fiore sebagai pahlawan. Pada 19 Juli 2004, pengusaha Claudio Lotito mengambil alih klub dan menyelamatkannya dari kebangkrutan. Di bawah Lotito, Lazio menambah Coppa Italia 2009 lewat adu penalti atas Sampdoria dan Supercoppa 2009 di Beijing setelah menundukkan Inter 2-1, laga Supercoppa pertama di luar Italia. Puncak emosionalnya hadir pada 26 Mei 2013, ketika gol Senad Lulić menentukan kemenangan 1-0 atas Roma di final Coppa Italia.

Simone Inzaghi memenangi gelar pertamanya sebagai pelatih lewat Supercoppa 2017 setelah mengalahkan Juventus 3-2 berkat gol Murgia di menit akhir. Lazio menambah Coppa Italia 2019 atas Atalanta dan Supercoppa Desember 2019 di Riyadh dengan skor 3-1 atas Juventus. Pada 2020, Ciro Immobile mencetak 36 gol dan meraih Sepatu Emas Eropa. Pada 4 November 2021, gol ke-160-nya untuk Lazio membuatnya melampaui Silvio Piola sebagai pencetak gol terbanyak dalam sejarah klub.

Lazio Masa Kini: Sarri, Baroni, dan Gattuso

Maurizio Sarri menjadi pelatih pada 9 Juni 2021. Pada musim 2022/23, Lazio finis kedua dan kembali ke Liga Champions, lalu menang 1-0 atas Bayern München di leg pertama babak 16 besar. Sarri meninggalkan klub pada Maret 2024, Marco Baroni menangani tim selama satu musim, dan Sarri kembali pada 2025. Pada 23 Juni 2026, Lazio menunjuk Gennaro Gattuso sebagai pelatih baru, membuka babak berikutnya dari perjalanan seabad lebih ini.

Identitas dan Trofi yang Membentuk Lazio

Lambang elang menjadi benang merah identitas klub sejak 1905. Pada Desember 2002, Komite Olimpiade Nasional Italia (CONI) menganugerahkan Collare d’Oro kepada Lazio atas jasa olahraga, sebuah pengakuan yang ditempatkan di Lazio Rowing Club.

Arsip sejarah klub hingga akhir 2019 mencatat dua Scudetto (1974 dan 2000), tujuh Coppa Italia (1958, 1998, 2000, 2004, 2009, 2013, 2019), lima Supercoppa Italiana (1998, 2000, 2009, 2017, 2019), Piala Winners 1999, serta Piala Super Eropa 1999. Totalnya mencapai 16 trofi besar pada akhir 2019.

stadion ss lazio

FAQ Seputar Sejarah Klub Lazio

Kapan Lazio didirikan dan siapa pendirinya?

Lazio didirikan pada 9 Januari 1900 di Roma oleh Luigi Bigiarelli bersama saudaranya Giacomo dan tujuh teman lain. Statuta pertama ditandatangani 15 anggota pada 13 Januari 1900, dan klub awalnya hanya bergerak di bidang lari.

Berapa kali Lazio juara Serie A?

Lazio dua kali juara Serie A, yakni pada musim 1973/74 di bawah Tommaso Maestrelli dan musim 1999/2000 di era Sergio Cragnotti.

Siapa pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Lazio?

Ciro Immobile melampaui Silvio Piola pada 4 November 2021 lewat gol ke-160 untuk Lazio, sehingga menjadi pencetak gol terbanyak dalam sejarah klub saat itu. Piola sendiri meninggalkan Lazio pada 1943 dengan 159 gol.

Mengapa Lazio berjuluk Biancocelesti dan berlambang elang?

Lazio memakai warna putih dan biru langit sejak seragam awal 1904, dan sebutan biancocelesti dipakai resmi seiring pembaruan lambang pada 1992. Elang imperial Romawi, simbol legiun Romawi, pertama kali muncul di lambang pada 1905.

Siapa pelatih Lazio saat ini?

Berdasarkan pengumuman resmi klub pada 23 Juni 2026, Gennaro Gattuso ditunjuk sebagai pelatih kepala tim utama Lazio untuk musim 2026/27.

Penulis : Copacobana99